Nakama Creative Lab

Bab 5 · KPI & Pengukuran

Beda metrik yang keliatan vs metrik yang penting

Angka yang paling gampang dilihat sering jadi angka yang paling sering disalahartikan sebagai "yang penting".


Sosmed nyodorin banyak angka. Like, komen, share, save, jumlah penonton, jumlah klik, jumlah orang baru yang lihat. Masalahnya, angka yang paling kelihatan dan paling gampang naik nggak selalu angka yang paling penting buat tujuan kamu. Banyak tim salah fokus karena ngejar yang gampang dilihat, melewatkan yang beneran berarti.

Like itu contoh klasik metrik yang keliatan. Dia gede, langsung kelihatan, dan enak dilihat naik. Tapi like itu murah. Orang nge-like sambil scroll tanpa mikir, lalu lupa. Like tinggi belum tentu artinya orang inget brand kamu, mau beli, atau bakal balik lagi. Dia ngasih perasaan berhasil yang kadang menipu.

Metrik yang lebih penting biasanya yang nunjukin orang melakukan sesuatu yang lebih dalam. Save, misalnya, nunjukin orang nganggap konten kamu berguna sampai disimpan buat nanti. Share nunjukin orang mau naruh nama baiknya buat nyebarin konten kamu. Klik link nunjukin orang cukup tertarik buat ngambil langkah berikutnya. Angka-angka ini lebih susah naik, tapi lebih nyambung sama hasil nyata.

Bukan berarti metrik yang keliatan nggak berguna sama sekali. Dia tetap kasih gambaran kasar. Tapi jangan dijadiin patokan utama. Patokan utama harusnya metrik yang paling nyambung sama tujuan, walau angkanya lebih kecil dan lebih susah naik. Lebih baik ngejar angka kecil yang berarti daripada angka besar yang cuma enak dilihat.

Analogi: Tepuk tangan versus orang yang beneran beli tiket pertunjukan kamu berikutnya. Tepuk tangan itu enak, langsung kedengeran, bikin pede. Tapi yang bikin kamu bisa terus manggung itu orang yang balik beli tiket, dan jumlahnya biasanya jauh lebih sedikit dari yang tepuk tangan. Kalau kamu ukur sukses dari kerasnya tepuk tangan doang, kamu bisa ketipu. Yang nentuin kelanjutan itu yang ngambil aksi nyata.

Studi Kasus: Brand Parfum Aroma

Aroma, brand parfum lokal, dulu bangga karena konten mereka sering dapat ribuan like. Tim ngerasa jago. Tapi penjualan stagnan. Pas mereka mulai lihat angka lain, ketahuan konten yang banyak like itu justru sedikit yang nge-save dan hampir nggak ada yang klik link toko. Sementara ada satu jenis konten yang like-nya biasa aja tapi save dan klik link-nya tinggi, yaitu konten yang ngebahas cara milih parfum sesuai aktivitas. Mereka geser fokus ke jenis konten yang kedua. Like rata-rata mereka turun, tapi penjualan dari sosmed naik. Mereka berhenti ngejar tepuk tangan dan mulai ngejar yang beneran beli.

Coba Sekarang

Buka beberapa konten lama kamu yang paling banyak like-nya. Lalu lihat angka lain di konten yang sama: berapa yang nge-save, berapa yang share, berapa yang klik link kalau ada. Bandingin. Sering kali konten yang like-nya tinggi ternyata biasa aja di angka yang lebih dalam. Temuan ini ngebantu kamu mulai milih angka mana yang pantas jadi patokan utama, dan mana yang cukup jadi pelengkap.

Takeaway

  • Angka yang paling gampang dilihat seperti like belum tentu angka yang paling penting buat tujuan.
  • Metrik yang lebih dalam seperti save, share, dan klik link lebih susah naik tapi lebih nyambung hasil nyata.
  • Jadikan metrik yang nyambung tujuan sebagai patokan utama, dan metrik yang keliatan cukup sebagai pelengkap.