Nakama Creative Lab

Bab 2 · Mindset Belajar

Salah itu data, bukan aib

Tim yang takut salah bakal main aman terus. Dan main aman terus di sosmed itu jalan pelan menuju ngebosenin.


Tiap orang yang kerja di sosmed pasti pernah bikin konten yang gagal. Caption yang nggak ngena, video yang sepi, campaign yang meleset. Yang bikin beda antar orang bukan apakah mereka pernah salah, tapi gimana mereka memperlakukan kesalahan itu. Ada yang ngeliatnya sebagai aib yang harus ditutupin, ada yang ngeliatnya sebagai data yang ngasih informasi.

Kalau salah dianggap aib, orang bakal nutupin dan main aman. Dia takut nyoba hal baru karena takut gagal dan dihakimi. Akibatnya kontennya jadi itu-itu aja, aman tapi datar, karena tiap ide yang agak berani diurungin sebelum dicoba. Tim yang takut salah pelan-pelan kehilangan keberanian, dan sosmed tanpa keberanian susah menonjol.

Kalau salah dianggap data, ceritanya beda. Konten yang gagal jadi sumber informasi: ternyata pendekatan ini nggak ngena buat audiens kita, ternyata jam segini sepi, ternyata gaya ini nggak nyambung. Tiap kegagalan nyempitin tebakan dan ngedeketin ke yang benar. Orang yang mikir begini berani nyoba, karena buat dia, hasil jelek pun tetap ngasih sesuatu yang berguna.

Ini bukan berarti ngerayain kegagalan atau jadi ceroboh. Salah yang berguna itu salah yang dipelajari, bukan salah yang sama diulang terus. Bedanya di apa yang terjadi sesudahnya. Kalau setelah gagal kamu bongkar dan ambil pelajaran, itu data. Kalau setelah gagal kamu cuma kecewa lalu lupa, itu cuma kerugian. Yang ngubah salah jadi data adalah refleksi yang ngikutin.

Analogi: Ilmuwan yang lagi nyari formula. Tiap percobaan yang gagal nggak dia anggap kebodohan. Dia catat: cara ini nggak berhasil, berarti coret dari daftar, coba yang lain. Justru dari ratusan percobaan gagal itu dia nyampe ke yang berhasil. Kalau dia nganggap tiap gagal sebagai aib lalu berhenti nyoba, dia nggak akan pernah nemu formulanya. Konten yang gagal itu percobaan yang nyoret satu kemungkinan dari daftar.

Studi Kasus: Toko Perlengkapan Hewan Sahabat

Toko Perlengkapan Hewan Sahabat punya tim yang awalnya takut banget bikin salah, karena owner dulu sering negur keras tiap konten sepi. Akibatnya tim main aman, ngulang konten foto produk biasa terus, dan akunnya datar. Lalu owner ganti pendekatan. Tiap konten yang gagal dibahas bareng dengan tenang, dicari pelajarannya, tanpa nyalahin orang. Suasana berubah. Tim mulai berani nyoba, ada yang bikin konten lucu soal tingkah hewan peliharaan, ada yang coba format tips perawatan. Sebagian gagal, tapi tiap kegagalan jadi bahan obrolan yang bikin mereka makin ngerti audiens. Dalam beberapa bulan, akun yang tadinya datar jadi hidup. Yang berubah pertama bukan skill timnya, tapi cara mereka semua memperlakukan kesalahan.

Coba Sekarang

Inget satu kesalahan atau kegagalan konten yang masih kamu simpan sebagai "memalukan". Ambil itu, dan ubah jadi data dengan satu pertanyaan: informasi apa yang sebenarnya dikasih kegagalan ini? Mungkin soal audiens, soal timing, soal gaya. Tulis satu pelajaran konkret dari situ. Begitu kamu bisa narik pelajaran, kegagalan itu berhenti jadi aib dan berubah jadi sesuatu yang ngebantu kamu maju.

Takeaway

  • Yang bikin beda antar orang bukan apakah pernah salah, tapi gimana mereka memperlakukan kesalahan.
  • Salah yang dianggap aib bikin orang main aman dan kehilangan keberanian. Salah yang dianggap data bikin orang berani nyoba.
  • Yang ngubah salah jadi data adalah refleksi sesudahnya, jadi salah yang dipelajari berguna dan salah yang cuma disesali jadi kerugian.