Nakama Creative Lab

Bab 3 · Mindset Adaptif

Platform berubah terus, yang kaku ketinggalan

Cara yang bikin kamu berhasil tahun lalu belum tentu cara yang bikin kamu berhasil tahun ini. Dan itu wajar di sosmed.


Sosmed itu lapangan yang gerak cepat. Platform sering ganti aturan main, fitur baru muncul, jenis konten yang disukai bergeser, kebiasaan orang berubah. Kecepatan perubahan ini lebih tinggi dari kebanyakan bidang lain. Yang setahun lalu manjur bisa adem tahun ini, bukan karena kamu jadi lebih jelek, tapi karena lapangannya udah pindah.

Di lingkungan yang berubah cepat, kaku itu mahal. Orang yang terlalu lekat sama satu cara, yang bilang "gue selalu begini dan dulu berhasil", bakal ketinggalan pelan-pelan. Dia ngotot pakai pendekatan yang udah nggak nyambung sama kondisi sekarang, lalu bingung kenapa hasilnya turun. Kelekatan sama cara lama bikin dia buta sama perubahan yang sebenarnya jelas di depan mata.

Adaptif itu lawannya. Orang yang adaptif merhatiin perubahan dan mau nyesuaiin. Dia nggak nganggap cara lama sebagai harga mati. Pas dia lihat audiens bergeser ke format baru, dia ikut belajar format itu. Pas platform ngasih fitur baru, dia coba. Dia nggak nungguin terpaksa berubah, dia berubah karena merhatiin. Sikap ini bikin dia tetap relevan walau lapangannya terus gerak.

Penting dicatat, adaptif bukan berarti ikut semua tren tanpa mikir. Bedanya ada di subbab berikutnya soal mana yang tetap dan mana yang berubah. Tapi sebagai sikap dasar, adaptif itu kesediaan buat ngelepas cara yang udah nggak jalan, walau cara itu dulu sayang banget karena pernah berhasil. Kemampuan ngelepas yang udah usang sama pentingnya dengan kemampuan belajar yang baru.

Analogi: Pedagang yang dagangannya laku keras di satu lokasi. Lalu jalanan dialihkan dan keramaian pindah ke tempat lain. Pedagang yang kaku tetap bertahan di lokasi lama karena "di sini dulu rame", sambil heran kenapa sekarang sepi. Pedagang yang adaptif ngikutin ke mana keramaian pindah. Dagangannya sama bagusnya, yang beda cuma kesediaan dia buat pindah ngikutin orang. Di sosmed, keramaian itu pindah-pindah terus.

Studi Kasus: Toko Aksesoris Kinclong

Toko Aksesoris Kinclong dulu sukses besar dengan konten foto produk yang ditata rapi. Selama dua tahun itu jadi andalan dan hasilnya bagus. Lalu kebiasaan audiens bergeser, orang mulai lebih suka video pendek yang nunjukin produk dipakai langsung. Admin lama Kinclong ngotot tetap di foto, karena "foto kita selama ini berhasil kok". Hasilnya turun terus dan dia nyalahin algoritma. Sampai akhirnya owner minta dia coba video pendek. Awalnya dia ogah karena nggak terbiasa, tapi setelah nyoba beberapa kali, interaksi mereka naik lagi. Foto yang dulu jadi andalan udah nggak cukup buat kondisi baru. Yang nahan mereka bukan ketidakmampuan bikin video, tapi kelekatan sama cara lama yang dulu berhasil.

Coba Sekarang

Lihat satu cara atau format konten yang udah lama kamu andalkan karena dulu berhasil. Tanya jujur: cara ini masih sejalan sama kebiasaan audiens sekarang, atau kamu pertahanin karena nyaman dan sayang ngelepas? Kalau jawabannya yang kedua, cari satu format atau pendekatan baru yang lagi naik di bidang kamu, dan coba sekali. Nggak perlu langsung ganti total. Cukup buktikan ke diri sendiri bahwa kamu masih sanggup nyesuaiin pas lapangannya pindah.

Takeaway

  • Sosmed berubah lebih cepat dari kebanyakan bidang, jadi cara yang dulu manjur bisa adem bukan karena kamu memburuk.
  • Kaku itu mahal di lingkungan yang berubah cepat, karena kelekatan sama cara lama bikin buta terhadap perubahan.
  • Adaptif berarti merhatiin perubahan dan bersedia ngelepas cara yang udah usang, sama pentingnya dengan belajar yang baru.