Bab 3 · Menyusun Isi yang Nyantol
Bahasa audiens: nulis pakai kata yang mereka pakai sehari-hari
Pembaca lebih percaya tulisan yang kedengaran kayak dia ngomong sendiri, daripada tulisan yang kedengaran kayak brosur perusahaan.
Tiap kelompok audiens punya cara ngomong sendiri. Kata-kata yang mereka pakai buat ngedeskripsiin masalah, keinginan, dan keseharian mereka. Copy yang kena itu copy yang ngomong pakai kata-kata yang udah ada di kepala mereka, jadi pas dibaca rasanya kayak "ini gue banget" atau "kok dia tau sih".
Masalahnya, brand sering kepengen kedengaran "profesional" atau "berkelas", jadi milih kata yang formal dan jauh dari bahasa sehari-hari audiens. Mereka nulis "solusi perawatan kulit komprehensif" padahal audiensnya ngomong "biar muka nggak kusam". Begitu bahasanya beda jauh, ada jarak. Pembaca ngerasa ini brand ngomong dari menara, jauh di atas sana, padahal yang dia mau brand yang duduk di sebelahnya.
Cara nemu bahasa audiens itu sebenarnya gampang dan gratis. Baca kolom komentar di konten sejenis. Lihat cara orang nanya di marketplace. Dengerin gimana mereka ngomongin masalahnya di grup atau di obrolan biasa. Kata-kata persis yang mereka pakai itu harta. Catat, terus pakai di copy-mu.
Ini bukan berarti kamu harus selalu santai dan nyeleneh. Kalau audiensmu kalangan profesional yang ngomong formal, ya bahasa formal justru yang pas buat mereka. Inti prinsipnya soal nyamain frekuensi. Santai atau formal itu cuma turunan. Pakai register yang sama dengan cara audiensmu ngomong, apa pun itu.
Analogi: Bayangin kamu ke luar negeri dan ketemu orang yang tiba-tiba ngomong pakai bahasa daerahmu dengan logat yang pas. Kamu langsung ngerasa deket, percaya, kayak ketemu orang sekampung. Bahasa yang sama bikin jarak hilang seketika. Copy yang pakai bahasa audiens kerja persis kayak gitu, bikin pembaca ngerasa kamu satu frekuensi sama dia.
Studi Kasus: Klinik Kecantikan Aura
Aura, klinik kecantikan, mau bikin konten soal perawatan buat kulit berjerawat. Tim marketing-nya nulis pakai bahasa "medis": "Mengatasi permasalahan kulit akneik dengan pendekatan dermatologis yang teruji."
Audiens utamanya remaja dan dewasa muda yang sebenarnya cuma ngomong "jerawatan", "muka breakout", "bekas jerawat susah ilang". Bahasa medis tadi bikin jarak, kedengaran kayak ngomong sama dokter di ruang praktik, padahal yang dicari audiens itu obrolan kayak sama temen.
Versi pakai bahasa audiens: "Jerawat baru ilang, eh muncul lagi di tempat yang sama. Bekasnya juga nggak pudar-pudar." Kalimat ini langsung kena karena pakai kata persis yang audiens pikirin tiap ngaca. Mereka ngerasa kebaca, dan dari situ baru mau dengerin solusinya.
Klinik yang sama, layanan yang sama. Yang berubah cuma frekuensi bahasanya nyamain audiens.
Coba Sekarang
Buka kolom komentar di tiga konten yang audiensnya mirip sama targetmu. Catat sepuluh kata atau frasa persis yang orang pakai buat ngomongin masalah atau keinginan mereka. Jangan diubah jadi versi formal, salin apa adanya. Pas nulis copy berikutnya, selipin kata-kata dari daftar itu. Lihat gimana copy-mu langsung kerasa lebih nyambung sama yang baca.
Takeaway
- Copy yang kena pakai kata yang udah ada di kepala audiens, jadi kebaca kayak "ini gue banget".
- Bahasa brand yang terlalu formal sering bikin jarak, kedengaran ngomong dari menara.
- Nemu bahasa audiens itu gratis: baca komentar dan dengerin cara mereka ngomongin masalahnya. Inti prinsipnya nyamain frekuensi, apa pun registernya.

